I Just found out that it's been more than 6 months i don't write anything. hmmm, I think i can blame it to all the social media around me. Path, twitter, facebook, u named it.
i can write short sentences to express every emotions that been jumping around in my head into social media. maybe i should rewrite all of my writings in social media together and see what kinda writing it composed. Good idea,huh?
but still, writing without any limitation of words is the best one. that's why i still need my journal here.
soooo, how's life anyway? hmmm, my professional life is getting hectic and hectic and more challenging. i like it. it's like a new toy for me. and i'm still going around and travelling to make me sober and keep my sanity, thou' sometimes i feel super exhausted that i only spend my weekend to hibernate.C'est La Vie riteeeeee....
And my love life? hahahaha, as usual,it always be complicated. Oh yes, i'm in love with this guy now. so much in love that i thought i will only felt it to 636. But unfortunately, I can't have him :'(. Why? ahhh, u will understand it someday :).
so, writing this journal accompanied by the songs from the past a.k.a 90's era makes me feel sooooo.... indescribable.
I'm a beach hopper. Beach is the place where i 'contemplate'. I like the variety of blue colours that shown here. The blue sky, the blue water, dark, light, turqouise. Who hate beach anyway??
Baru
aja landing di Jakarta tadi pagi dan gw udah pengen balik aja lagi ke Lombok.
Parah nih travelling blues syndrome-nya gag mendingan juga. Hell yeah, I just
got back from my getaway to Lombok!and it was awesome ^^.
This
island is so wow-ing. Pantainya bagus2, terutama di sepanjang pesisir Lombok Tengah & Lombok Barat *if i'm not mistaken* bikin berkali2 nahan napas saking bagusnya. Sesek bok napas gw disana,
hihihihihi. Mungkin karena banyaknya teluk di Lombok jadi pantainya bagus2 dan
airnya tenang. Jadi bisa buat maen2 air deh *call me sotoy ya, abis dimana2 gw
liat teluk sih*.
Gw
di Lombok pas liburan Idul Adha. Jadi ini pertama kali gw solat Id di rumah
orang laen, bukan di rumah sendiri. Kebetulan besties gw ada yang rumahnya di
Mataram, jadi deh nebeng solat, makan, dan tidur. Hehehe, thanks Mbak SQ
yaaaa..
Di
Lombok 5 hari, gw maen2 ke Pantai, gili, desa adat, makan makanan lombok,
kejar2 n ‘ngithik2’ penyu di dalem laut, maen2 ngasih makan ikan sambil
kegelian digigitin ikan warna warni lucu di dalem laut, liat banyak schooling
fish, sepedahan, ‘ngejar’ sunset, jerit2 lari dari perahu ke pantai krn kaki
kepanasan di pasir putih, ngemil gelato enak di trawangan, liat arak2an nikahan
orang Lombok yang meriah *called Nyongkolan*, road trip lewat pinggir pantai, lewat hutan yang isinya
monyet banyak sampe off road di jalanan antah berantah nan kering dan gersang
demi sekeping pantai. Itu aja masih banyaaaaaaakkkkkkk banget yang belum gw
datangin. Intinya gw menggosongkan badan deh di sana. And lay low from the
hecticness sih lebih tepatnya. Seperti kata guide gw pas gw ke desa adat Sade,
‘Sade’ artinya obat. Maksudnya dengan datang ke dusun Sade, bisa jadi obat
hati. Yeah indeed buat gw,Lombok bisa jadi salah satu obat hati dan mata sih,
nyehehehehe..
Oiya,
kalo ada yang mau nginep di Gili Trawangan,bisa coba nginep di Oda’s bungalow
deh. Kalo menurut gw, tempatnya enak dan pelayanannya bagus. Mas Erwin (no hp :
085937001081), yang punya, juga baik, ramah, suka ngajak ngobrol dan banyak
bantuin gw selama disana.
Kalo
temen gw bilang sih, pantai2 lombok bagus tapi sayang fasilitasnya kurang. Kalo
gw sendiri, seperti yang pernah gw tulis kemaren2, gw lebih pengen tempat2
bagus itu ‘tersembunyi’ aja jadi gag dirusak sama komersialisme. Apalagi kalo
dinas pariwisata udah masuk, ampun dije deh pasti jadi jelek. Jadi biarin deh
jalan mau jelek, fasilitas gag ada juga gw gag peduli. Yang penting tetep bagus
dan alami. I wish Lombok will stay the same, for the culture and the people.
And not ruined by the tourists that come and go.
I’m
wondering now, kalo Lombok aja sudah sebagus ini gimana Sumbawa dan pulau2 di
Indonesia Timur ya?
I
saw a bule guy in the boat with this tattoo stated : ‘ fuck normal life’. well
that’s a bold statement indeed ^^.
I Know this man for long time. Not as long as 636, but quite long to be called best friend. He knows my story of life. He knows 636 also.They've met before at the court. He is few of my friends who I let involved in my life deeper. He listens to all of my story patiently. Everytime i'm happy, or sad, angry or even sobbing because of 636. He was my perfect escape from 636. He teaches me many things. Even until today. He completes me, i guess. We have opposite personality characteristic. As if i'm black and he is white. He is my second best man.
No, we have no romantic story. But deep down under my subconscious, i want him to be my partner of life. And now time is ticking. Last nite he told me that he's getting married. With a woman that I have no clue who she is. Right in the time when i decided to open my heart to him. Ignoring all the doubts that I have.
*sigh* It happens again.
It doesn't feel like when i let 636 go, but quite the same. This is my second dreadful of heartbroken.
‘Silakan neng istirahat dulu disini,nggak usah bayar kok.’
Entah kenapa mendengar ajakan si ibu yang jaga vila ini bikin saya terhenti sejenak dari kesibukan mencatat hasil pertanyaan-pertanyaan yang saya ajukan sebelumnya. Memang waktu itu kami cukup capek dari perjalanan yang lumayan bikin badan rontok plus malam sebelumnya kami Cuma tidur di dalam mobil dan di saung karena kami sampai terlalu cepat, jam 3 pagi. Ditambah lagi kami harus kembali pulang ke Jakarta hari itu juga.
Beberapa kali berinteraksi dengan orang-orang yang tinggal di daerah yang jauh dari hedonisnya kota terkadang membuat saya sering harus terdiam dan ‘tertampar’ dengan sikap yang mereka tunjukkan. Sikap yang berbeda dengan yang ditunjukkan oleh orang-orang di kota besar dimana saya tinggal. Orang-orang yang terkadang terlalu mengkotak-kotakkan dan membuat strata sendiri untuk merendahkan atau meninggikan derajat seseorang. Bahwa orang yang tinggal di kota besar lebih tinggi derajatnya dari orang yang tinggal di kota kecil, bahwa tinggal di ibukota adalah segalanya dan keren. Bahwa Jakarta dan Jawa itu berbeda, padahal ya Jakarta itu ada di pulau Jawa juga bukan?
Beberapa kali saya mendapatkan hospitality yang luar biasa dari orang-orang ini disaat pikiran saya justru membuat banyak perhitungan ini itu. Berapa yang harus saya bayar?Apakah mereka tidak rugi?Apakah saya boleh numpang ini itu segala macem?Apakah kalau saya melakukan lebih berarti harus bayar lebih?Apakah aman kalau saya tinggal barang saya?Ada maksud tersembunyi nggak ya mereka?begitu seterusnya sampai ruwet sendiri itu kepala. Seperti temen saya yang bahkan takut untuk pipis di kamar mandi di dalam kamar vila yang dipinjamkan ke kami untuk Solat Subuh. Sangat tipikal sekali. Sedangkan orang-orang ini malah santai saja dan tidak pernah merasa rugi dengan apa yang mereka berikan. Mereka hidup dengan kesimpelannya dan kita dengan keribetannya.
I’m ashamed with myself actually. Hidup di kota besar dan memperhitungkan segala sesuatu dengan untung dan rugi. Hidup dengan penuh kecurigaan bahwa banyak serigala di sekitar. Sibuk dengan diri sendiri dan ‘berjalan’ dengan tempo yang terlalu cepat sampai lupa menikmati kehidupan dengan santai kaya di pantai. Bangga menjadi bagian dari masyarakat dunia dengan segala gadget canggih, update teknologi, update segala macam hal. Tapi lupa untuk menjadi manusia.
Beruntunglah mereka yang tidak terkontaminasi kehidupan yang super ribet ini. Yang terlalu memuja trend dan berlomba-lomba menjadi yang paling update, walau terkadang sebenernya gag ngerti dengan apa yang dikejar dan dibanggakan. Saya harap kontaminasi ini tidak akan meluas dan merusak kearifan lokal mereka. I envy them.